Restorasi Gambut Dongkrak Ekonomi Masyarakat
Banjarmasin, BARITO
Bila
dikelola dengan baik, lahan gambut bisa dimanfaatkan untuk mendukung
peningkatan perekonomian masyarakat. Namun tentu saja dalam pengelolaanya perlu
tindakan tepat untuk melindungi lahan tersebut dari degradasi. Pengelolaan
lahan gambut harus dilakukan dengan meningkatkan pertumbuhan sosial dan
kesejahteraan tanpa membahayakan ekosistem.
Foto : TRGD
Badan Restorasi Gambut (BRG) melakukan
kegiatan pembasahan ekosistem gambut, pendampingan dan pemberdayaan ekonomi
masyarakat, perencanaan restorasi dan pemetaan Kesatuan Hidrologis Gambut
(KHG), pembangunan demonstration plot pertanian gambut terpadu serta pemasangan
alat pemantau tinggi muka air.
Ketua Tim Restorasi Gambut Daerah
(TRGD) Kalimantan Selatan Saut Nathan Samosir mengatakan, restorasi lahan
gambut di Kaliamantan Selatan telah terlaksana di tiga kabupaten sesuai target
Badan Restorasi Gambut (BRG) di tahun 2017. “Harus kita akui realisasi
restorasi gambut berjalan 100 persen, berupa pembuatan 125 sumur bor dan paket peningkatan ekonomi masyarakat juga
telah diberdayakan. Restorasi Gambut mampu dongkrak ekonomi masyarakat,” ujar
Saut Nathan Samosir, Senin (12/3/2018).
Foto : Afdi
Ia menyebutkan, target pembuatan
skat kanal di tiga kabupaten sebanyak 200 buah, namun realisasinya hanya 22
buah di Desa Pulau Damar Kecanatan Banjang Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). “Ya,
walau tak terlaksana sesuai harapan di
2017, namun telah dimaksimalkan potensi sumber daya, seperti pembuatan sumur
bor, dan kanal, dan paket ekonomi untuk 2018.
Apalagi, sambungnya, konsensus titik
ekonomi dengan 12 paket telah berjalan lancer di Kabupaten Batola, HSU, HSS.
“Revitalisasi di Batola dengan penanaman sayuran, karamba ikan. Sedang HSS mencakup Daha Barat di Desa Siang Gantung
25 sumur bor, ternak itik dan Daha Selatan 25 sumur bor, dengan budidaya ikan
papuyu, ternak itik, budidaya ikan kolam Nila.
Foto : TRGD Kalsel
Lalu Batola di Desa Mandastana dan
Jejangkit 75 sumur bor. Kemudian Kecamatan Kuripan ternak itik dan budidaya
ikan Nila, tanaman Semangka dan Sayuran,” kata Ketua Seknas Jokowi Kalsel ini.
Untuk tahun 2018 ditarget tiga
kesatuan hidrologis gambut (KHG) mencakup sungai utar- sungai serapat
perbatasan Kalteng, Tabalong, Amuntai. Lalu Sungai Barito-Sungai Tapin dan
Sungai Balangan-Sungai Batang Alai. “Dianggarkan Rp24 miliar untuk 2018, namun
ada revisi. Dan masih menunggu SK dari Men-LH
dalam pengelolaan pendanaan serta perlaksanaan dari kuasa pengguna
anggaran (KPA), unit pelaksana daerah UPD,” katanya.
Dana pelaksanaan, bebernya,
tergantung nantinya, apakah bisa dilelangkan atau ditunjuk kelompok masyarakat.
“Tahun 2018 berbeda pengelolaannya, jika dibanding 2017 yang hanya ditunjuk
BRG, dengan pelaksana perguruan tinggi,” ucapnya.
Untuk itu, target 4 bulan dilakukan
monitoring evaluasi (monev) agar diketahui hasil kerja BRG, termasuk keberadaan
sumur bor tesebut, apakah bisa dipakai masyarakat, sebab diserahkan kepada
masyarakat, dan yang mengendalikan kelompok masyarakat. "Mereka ditugasi
mengelola, dan mengoperasionalkan sumur bor, mengingat titik operasional skat
kanal, dan sumur bor untuk membasahi lahan Gambut,” imbunya.(afdi)
