Sido Muncul Pastikan Penggunaan Obat Herbal Menuju Indonesia Sehat
Banjarmasin, BARITO
Sebanyak 9.600 di antaranya memiliki
khasiat obat dan baru sekitar 200 spesies yang dimanfaatkan sebagai obat. Data
WHO pada 2005, diperkirakan sebanyak 75-80 persen penduduk dunia pernah
menggunakan obat-obatan herbal.
Obat-obatan berbahan alami (herbal)
terus dilirik dan digunakan masyarakat Indonesia di tengah tinggi dan
ketergantungan dengan obat-obatan pabrikan atau kimia. Hal ini berkelindan
dengan posisi Indonesia yang merupakan salah satu negara megadio terbesar di
dunia. Dari 40 ribu spesies tanaman obat, sekitar 30 ribu spesies di antaranya
berada di Indonesia.
Foto: Afdi
Direktur PT Sido Muncul
Irwan Hidayat mengatakan dunia kedokteran memiliki wawasan yang luas mengenai
perkembangan industri jamu, penelitian yang dilakukan, juga penggunaan jamu
untuk pelayanan kesehatan. “Kami berupaya melakukan edukasi melalui kerjasama
dengan sejumlah fakultas kedokteran,” kata Irwan Hidayat dalam Seminar
Memanfaatkan Obat Herbal Menuju Indonesia Sehat kerjasama PT Industri Jamu dan
Farmasi Sido Muncul Tbk, Fakultas Kedokteran ULM, Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
di aula Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Jalan Veteran
Banjarmasin, Sabtu (24/3/2018).
Irwan Hidayat yang
bertindak sebagai pembicara bertajuk Industri Herbal Berbasis Good
Manufacturing Proctices (GMP) tersebut memaparkan produk Sido Muncul seperti
tolak angin. “Sido Muncul telah melakukan berbagai penelitian yaitu uji
toksisitas dan uji khasiat dengan Universitas Sanata Sharma dan Universitas
Diponegoro,” ujarnya.
Foto : Afdi
Hasilnya, sambung Irwan
Hidayat, minum tolak angin dalam jangka panjang tidak menimbulkan efek samping
jika diminum sesuai dosis anjuran (tidak menimbulkan efek toksik bagi organ
tubuh). Tahun 2007 tolak angin telah mendapatkan sertifikat obat herbal
terstandar (OHT) dari Badan POM.
Guru Besar Universitas
Diponegoro Prof Dr Edi Dharmana MSc PhD So Park mengatakan uji manfaat tolak
angin, pada tubuh dan tidak menimbulkan efek sebab merupakan obat herbal
berstandar. “produk
jamu Tolak Angin dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Penelitian terhadap
pengaruh jamu Tolak Angin terhadap jumlah limposit. Limposit adalah salah satu sel yang bisa
mengendalikan fungsi imunitas di dalam tubuh,” bebernyam
Senada itu, Dosen
Fakultas Farmasi Universitas Sanata Sharma Ipang Djunarko SSI MSc Apt
mengatakan uji toksisitas sinkronisasi tolak angin cair ternyata tolak angin
tidak mengurangi dan mengganggu kemampuan seksual. Bahkan tidak mengurangi
reproduksi uterus dan testis. “Tidak ada gangguan dan masyarakat tak perlu
khawatir mengkonsumsi tolak angin. Ya dosis maksimal yakni 9 kali dalam saset satu
kali minum,” tuturnya.
Seminar herbal ke-39 di
Kota Banjarmasin, dan sejak tahun 2007 dalam mensosialisasikan penggunaan obat
herbal. Kota lain yang juga digelar seminar yakni Jakarta, Bogor, Bandung,
Semarang, Ungaran, Yogyakarta, Medan, Lampung, Pekanbaru, Padang, Palembang,
Solo, Makassar, Surabaya, Jombang, Batam, Magelang, Bali.
Dekan Fakultas
Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof H Zairin Noor mengatakan pihaknya
tidak hanya meneliti, namun juga harus bekerjasama dengan industri herbal.
Apalagi kini di
Indonesia memiliki 2 ribu pabrik jamu, tetapi hanya 1 persen yang hidup. “Ya,
saya kira Sido Muncul diupayakan untuk bisa merangkul
Kedokteran ULM, karena
perusahaan jamu tersebut telah teregister sehingga sangat aman di konsumsi
masyarakat luas,” bebernya.
Obat dari herbal hanya 6
macam di Indonesia, padahal luasnya pulau ini sangat luar biasa yang bisa
dimanfaatkan untuk mengembangkan industry herbal. “Kami akan memberikan masukan
kepada pabrik jamu dan menggali agar tumbuh enterprenuer ship. Bahkan kami berupaya
menciptakan pusat layanan tradisional di Kalsel, dengan tujuan agar masyarakat dapat
selalu tetap sehat,” imbuhnya.
Dalam kesempatan itu, PT
Sido Mucul memberikan doorprize kepada 50 peserta seminar, dengan nilai total
uang Rp50 juta, dimana setiap peserta yang terundi mendapatkan hadiah Rp1 juta.
250 peserta hadir dari
kalangan kedokteran, peneliti, mahasiswa, dan masyarakat umum di Banjarmasin.
Menghadirkan para pembicara berbobot
seperti Dra. Rr. Maya Gustina Andarini, Apt., M. Sc, Dr. dr. Ina
Rosalina, Sp.A(K), M.Kes., MH. Kes, Iriawan Hidayat, Prof. dr. Edi
Dharmana, M. Sc., PhD, Sp. Park, serta Ipang Djunarko, S.Si., M.Sc., Apt.
(afdi)