Kembangkan Agorbisnis, Sektor Pertanian di Kalsel Bisa Lebih Untung
Banjarmasin, BARITO
Paradigma pengembangan sektor pertanian perlu diubah dari budidaya menjadi agrobisnis. “Dengan menjadikan sektor pertanian sebagai sebuah bisnis, maka akan membuat petani lebih sejahtera,” ujar Ketua DPW Partai NasDem Kalimantan Selatan H Guntur Prawira ketika diminta komenternya terkait pencaleg-an dirinya di DPR RI Dapil Kalsel I (Batola, Banjar, Tapin, HSS, HST, HSU, Balangan, dan Tabalong), Minggu (5/8/2018).
Ia menyebutkan, pertanian akan memberikan keuntungan yang besar bukan dari proses budidayanya saja, namun dari pemasaran hasil pertaniannya pun memiliki nilai lebih.
"Petani akan mendapatkan keuntungan yang besar itu sebetulnya dari proses bisnisnya, dari proses agrobisnisnya, yang ditunjang dengan sektor budidayanya," bebernya.
Apalagi, sambungnya, Kalsel I (Batola, Banjar, Tapin, HSS, HST, HSU, Balangan, dan Tabalong), memang lebih 60 persen masih lahan pertanian, dan areal perlu dijadikan topangan ke depan untuk pengembangan sumber daya alam. “Ya, kalau saat ini sektor tambang cukup baik, sebab itu perlu pengaturan lagi, namun lebih baik lagi sektor pertanian untuk masa generasi berikutnya. Jadi kita harus melihat ke depan dan berorientasi bagi generasi penerus,” tambah alumni lemhanas ini.
Senada itu, Ardiansyah Caleg Partai NasDem Dapil Kalsel I DPR RI juga mengaku sependapat dengan pengotimalan seKtor pertanian. “Hasil pertanian akan memberikan nilai tambah yang tinggi jika proses dari hulu hingga hilirnya dilakukan berdasarkan pehitungan bisnis, bukan hanya sekadar membudidayakan tanaman yang ada di sekitarnya,” ujar Dewan Pakar HKTI ini.
Untuk itu, bebernya, ada pembenahan paradigm, sehingga tidak hanya berkutat pada sektor budidaya yang berkaitan dengan benih, yang berkaitan dengan pupuk, yang berkaitan dengan insektisida saja. Tetapi kalau kita ingin memberikan keuntungan yang besar sekali, paradigma kita harus tahu bahwa kita harus masuk ke sektor proses bisnisnya, ke sektor agrobisnisnya," kata dia.
Dengan paradigma agrobisnis, petani itu harus memiliki sendiri industri benih, memiliki aplikasi-aplikasi produksi yang modern dan memiliki penggilingan penggilingan modern. (afdi)

