Spirit Perjuangan dan Terwujudnya
Masjid Al Jihad dengan Keikhlasannya di Banjarmasin
Tahun 1967 Muhammadiyah hanya mempunyai 2 Masjid di Kota Banjarmasin, yaitu Masjid Muhammadiyah Sungai Miai dan Masjid Muhammadiyah Kelayan B. Di Komp.Mawar Banjarmasin warga Muhammadiyah setempat melaksanakan ibadah di Mushola Jalan Kaca Piring I di rumah H Saberi Razak (Alm).
Pada 13 Nop 1967 bertepatan 11 Shafar 1397 H, Pimp.Cab.Muhammadiyah IV memutuskan membangun masjid Muhammadiyah di Komp.Mawar. Maka dibentuklah panitia yg terdiri dari Ketua H.Anang Bakeri, Wakil Ketua H.Saberi Razak, Sekretaris Misbach, Bendahara H.Suberi As.
Pada 7 Juni 1969, SING KANG (M.ILHAM) menawarkan sebidang tanah beserta bangunannya di jalan Cempaka Besar seharga Rp.4.500.000. Panitia berminat membeli tanah itu untuk lokasi pemb.masjid Muhammadiyah karena letaknya sangat strategis di tepi jalan raya. Pendekatan dengan WNI keturunan tionghoa itupun dilakukan.
Pada 15 Juni 1969 pukul 17.00 wita, H.Saberi Razak bertemu dengan Singkang utk negosiasi harga, tapi belum dicapai kata sepakat. Pada saat itu pula terungkap bahwa tanah tsb besok pagi akan dibeli pihak lain. Bahkan kabarnya ditanah tsb akan dibangun tempat peribadatan agama lain.
Sontak semua aggota panitia pembangunan masjid terkejut karena SingKang mengambil keputusan itu secara sepihak. Panitia dihadapkan pd posisi yg sulit dan kritis karena belum ada dana tersedia, utk ukuran saat itu 4,5 juta kalau dinilai dengan emas sama dengan 2,5 kg emas.
Panitia kembali menemui Singkang sekaligus bertemu dengan pihak yang akan membeli tanah itu Lim Bun Ci untuk negosiasi.
Pada 16 Juni 1969 pukul 08.00 wita bertempat di Toko Rahmad Pasar Baru Banjarmasin, H.Saberi Razak Cs dan SingKang disaksikan H.Darlan Tukacil bersepakat melakukan jual beli tanah di jalan Cempaka Besar itu dengan harga Rp.4.250.000. SingKang hanya memberi batas waktu 3 hari utk pelunasannya.
Hari itu pula pukul 10.00 wita H.Saberi Razak dan H.Sukeri datang kerumah SingKang untuk bayar persekot Rp.100.000. Disepakati jika dalam waktu 3 hari panitia tidak membayar lunas harga tanah itu, maka perjanjian jual beli batal dan persekot hilang.
Pada 18 Juni 1969 pukul 14.00 wita segenap warga Muhammadiyah menggelar pertemuan di aula SD Muhammadiyah Jalan Cempaka II Banjarmasin, rapat dipimpin
Ketua Pimp.Cab.IV H.Husin Rasyid dan wakilnya H.M.Syaifullah.
Saat itulah pimpinan rapat menggugah para hadirin dengan pertanyaan "apakah kita ingin mendengar suara adzan berkumandang ataukah lonceng gereja dilingkungan mawar ini". "Saudara-saudara saya yakin Allah akan menolong kita jika kita menolong agama Allah. Beliau dg suara terbata2 mengeluarkan sebuah gelang emas 24 gram dari sakunya. " Ini adalah amanat dari seorang ibu dirumah yang tak bisa hadir karena anaknya sakit, gelang ini ikhlas disumbangkan untuk pembangunan Masjid Muhammadiyah.
Para ibu yang hadir saat itu tersentuh dan serentak mendatangi meja pimpinan rapat, sambil melepaskan semua perhiasan emas yang dipakainya. Serta merta tanpa pikir panjang bapak dan ibu langsung mencatatkan diri sebagai penyumbang, tak sedikit yg menyisihkan modal dagangannya yg sangat mereka butuhkan dlm memutar roda kehidupan.
Yang mengharukan ada seorang ibu menyumbang cincin kawin kesayangannya, panitia tidak sampai hati menerima pengorbanan ibu itu lalu bertanya, " Bu, ibu kan hanya punya satu ini, ibu itu menjawab ya, apakah ibu tdk menyesal, dg tegas ibu itu menjawab saya ikhlas, bahkan saya bangga, jangan sumbangan saya yg kecil ini ditampik, jangan panitia menolak saya karena hanya mampu menyumbang cincin kecil beberapa gram, jangan saya ditinggalkan dari kapal kelompok pejuang utk menegakkan rumah Allah ini".
Setelah hari itu sumbangan terus mengalir ke panitia, ada seorang bapak tua yang menyerahkan sepeda butut yang digunakannya untuk bekerja sehari2, tapi panitia tdk sampai hati menerima dan menolak sumbangan itu dengan halus. Kepala daerah kepolisian/kadapol sekarang kapolda kalsel Brigjen Abdul Hamid Swasono spontan menyumbangkan jam tangan rolex baru miliknya.
Akhirnya tepat 21 Juni 1969 terkumpul dana utk membeli tanah SingKang itu sesuai batas waktu yg telah disepakati.
Setelah tanah dibeli dilakukanlah perembukan mengenai nama Masjid yg akan dibangun. Ada 3 nama yg diusulkan yaitu Al Fatah (kemenangan), Al Munawarah (yang diberi cahaya), dan Al Jihad (perjuangan). Tepatnya nama Al Jihad yang disepakati, sesuai dengan sejarah, semangat dan watak Masjid ini.
Tanggal 11 Juli 1969 tepat 25 Rabiulakhir 1389 H Masjid Al Jihad diresmikan dan saat itupula dilaksanakan Sholat Jumat perdana di Masjid Al Jihad dengan Khotib HM.Arsyad dan Adzan dikumandangkan H.Muin.
Era Milineal 2018
Kini di era milienal ini tahun 2018,
Masjid Al Jihad Banjarmasin menjadi masjid yang termegah dan popular, dengan
berbagai aktivitas menyelimuti. Tentu tak kalah dengan masjid-masjid di Timur
Tengah, termasuk di kawasan Jazirah Arab seperti Masjidil Haram Makkah dan
Masjid Nabawi Madinah.
52 kali pengajian rutin dalam
sebulan, mulai subuh, siang, petang, dan malam selalu menyirami rohani para
jamaah, sehingga dari hari ke hari, jumlah jamaah membludak. Akibatnya masjid
yang relative besar berkapasitas 2.500 jamaah terasa sempit.
Hal itu ditandai dengan sholat subuh
dan zuhur, layaknya seperti shalat
Jumat, makin meluber jamaahnya.
Tak terlupakan, kegiatan rutin
pengelolaan ibadah kuran dengan rata-rata 85 ekor sapi setiap tahun, bahkan diperkirakan
tahun depan mencapai 100 ekor sapi.
Pengelola banyak yang ditolak jika
kelebihan hewan kurban, sebab penyembelihan diharuskan selesai satu hari saja.
Ini bentuk kepercayaan penyelenggaraan ibadah kurban, sehingga selalu bertambah.
Tak kalah menonjolnya adalah
penyenggaraan sholat jenazah, karena hampir tiap hari digelar, bahkan dalam
sehari mencapai 5 jenazah yang diterima untuk dishalatkan, yang kebanyakan pula
orang berasal dari jauh.
Karena jamaah tidak kurang 1.000 jamaah
mensholatkan, bahkan bisa melayani penyenggaraan jenazah 24 jam. Mulai
memandikan, mengapani, dan menguburkan, bahkan jika ada yang mau dikirim ke
Jawa, pengurus masjid yang mengurus artinya keluarga tinggal diam saja.
Bahkan sifat sosialnya sangat
banyak, jika tak mampu digratiskan memandikan, menguburkan, hingga penyelenggaraan
jenazah diperoleh dengan lapang. Apalagi telah disiapkan ruang pemandian 2 buah
untuk laki dan perempuan. Tentu semua itu, pihaknya tidak membedakan golongan
dan organisasi, meskipun bukan Muhammadiyah pun diterima. Namun cara mengurus
jenazah sesuai ketentuan Nabi SAW.
Ditambah lagi, armada 2 unit
ambulance, meski dinilai kurang, namun masih bisa digunakan secara bergantian
saat membawa jenazah menuju Maqbarah Al jihad yang berada di kawasan Pematang
Gambut, dan Liang Anggang Bati-Bati.
Lebih menarik lagi, kegiatan
Ramadhan penuh khusus qiyamul lail, dan buka puasa bersama tidak kurang 1.500
jamaah menyelimuti masjid Al Jihad Banjarmasin.
Tentu menu khas bubur ayam buka
puasa tersaji dengan nyaman, dengan pembiayaan dari jamaah. Termasuk puasa
6 hari di bulan Syawwal. Begitu puka aktivitas shalat Id dipusatkan pada Taman Kamboja samping masjid
Al jihad mencapai 5 ribu jamaah, menjadi bagian siar dan takmir masjid.
Aspek ekonomi, dilingkungannya
terdapat Al Jihad Mart melayani kebutuhan siswa SD/SMP/SMK Muhammadiyah dan
jamaah yang ingin berbelanja, ditunjang pula klinik kesehatan dengan tenaga 2
dokter, 2 perawat, 2 farmasi, berlangsung setiap Pagi Ahad dan Ahad Malam.
Sifat sosial kemasyarakatan lainnya
pun digeber seperti pembagian zakat fitrah kepada 3.000 penerima setiap malam Idul
Fitri. Begitu pula sunatan massal dan donor darah pun digelar, kebiasaan menjelang
puasa ramadhan sebanyak 350 anak dengan diberi paket sarung dan uang saku.
Donor darah juga rutin, kemudian
remaja masjid melaksanakan pesantren ramadhan , pengajian remaja, dan bakti
sosial. Kami memberikan kepercayaan kepada remaja masjid seperti penyenggaraan
kurban, dengan koordinator mereka yang remaja. Dengan menghadirkan panitia
pelaksana mencapai 600 orang.
Sosial kemasyarakatan tidak hanya
rutinitas ibadah di masjid, namun juga memberantas tempat tidak pantas seperti
salon esek-esek, dengan melayangkan surat ke Walikota Banjarmasin, bahkan kami
juga melayangkan surat menolak diskotek dekat masjid.
Terpenting pula pendapatan hasil
infaq di Masjid Al Jihad perminggu dibuka dengan rata-rata Rp55 juta, bahkan
sampai Rp60 juta. Karena kepercayaan jamaah kepada pengelola masjid Al jihad,
maka pendapatan masjid selalu bertambah. Ada pula donatur tetap Rp30 juta rutin
perbulan, dan dana dipergunakanuntuk kemakmuran jamaah.
Dari semua itu, apa kiatnya? Tidak
lain yakni pengelola secara ikhlas dan berkreasi dalam memakmurkan masjid,
sebab dengan ikhlas tanpa imbalan, namun lebih cenderung kepada pahala yang
nanti dibalas oleh Allah SWT.
Masjid Al Jihadi dipastikan memiliki
kenyamanan, keamanan, dan menyenangkan.
Seperti WC bersih, tempat sholat
pakai AC, penerangan dan fasilitas lengkap, dan aman dari kecurian dengan
security-nya yang dilengkapi.
Dulu ada yang kehilangan sepeda
motor, dan laptop, namun panitia siap mengganti akan tetapi, si pemilik menolak
untuk diganti.
Jamaah yang sakit pun kita datangi,
selalu ucapkan salam saat bertemu, dengan keramahan yang harus digaungkan
secara terus menerus. Memakmurkan masjid pun dengan mengoptimalkan radio Suara
Al Jihad, dan kini digemari masyarakat luas, mengingat ada acara pengajian dan
info penting yang selalu disiarkan.
Saat ini, radio Suara Al Jihad yang
dibangun tahun 2010 melebarkan sayap ke Muhammadiyah Alabio HSU dengan semua
fasilitas radio oleh Masjid Al Jihad Banjarmasin.
Radio Suara Al jihad juga membantu
masjid lain untuk memberikan informasi seperti pembangunan masjid dan lainnya.
Dam hal penting yang perlu diketahui, Masjid Al Jihad kini telah menggunakan escalator
untuk naik ke atas sehingga memudahkan jamaah perempuan dan tua.
Para petugas seperti kaum, petugas
kebersihan, security, imam, petugas umum diberangkatkan umrah oleh jamaah.
Bahkan ada pula jamaah yang rajin turut pula diberangkatkan umroh. Sebab dengan
pengelolaan masjid Al Jihad yang secara transparan dan dimanfaatkan secara
maksimal untuk jamaah, memberikan dampak positif bagi semua.
Ke depan, telah direncanakan
pembangunan area parkir sebanyak 6 lantai, dan sudah dibangun pondasi senilai Rp4
miliar, dan target sebelum puasa 2019 terealisasi 3 lantai. Sumber dana Rp1
miliar dari PCM Banjarmasin 4 dan
sisanya oleh jamaah serta ortu siswa. Pada 6 lantai tersebut selain area
parkir, juga ada ruang kegiatan sekolah, dan ruang serbaguna di lantai 6, tentu
menggunakan operasional lift.
Masjid Al Jihad Banjarmasin memiliki
luas 3.000 meter persegi, lahan 5.000 meter persegi, dengan kapasitas 2.500
jamaah. Bahkan kini saking percayanya orang dengan pengelolaan masjid Al Jihad,
maka ada seseorang mewakafkan tanah di Landasan Ulin ke dengan harga Rp1,5
miliar untuk dipergunakan. Yang menarik ada para imam masjid sebanyak 4 orang, bahkan
secara bergiliran . Setiap waktu sholat menggunakan ayat selalu disambung
sehingga khatam Al Qur'an. Kini Ketua Pengelola Masjid Al Jihad dipimpin Ustadz
Riza Rahman, di bawah PCM Banjarmasin 4 dengan ketua H Taufik Hidayat. (berbagai sumber/afdi)

