[about]

[about]

Spirit Perjuangan dan Terwujudnya Masjid Al Jihad dengan Keikhlasannya di Banjarmasin

Jumat, 28 September 2018, 16:57 WIB Last Updated 2018-09-28T08:57:48Z
---


Spirit Perjuangan dan Terwujudnya Masjid Al Jihad dengan Keikhlasannya di Banjarmasin

Tahun 1967 Muhammadiyah hanya mempunyai 2 Masjid di Kota Banjarmasin, yaitu Masjid Muhammadiyah Sungai Miai dan Masjid Muhammadiyah Kelayan B. Di Komp.Mawar Banjarmasin warga Muhammadiyah setempat melaksanakan ibadah di Mushola Jalan Kaca Piring I di rumah H Saberi Razak (Alm).
Pada 13 Nop 1967 bertepatan 11 Shafar 1397 H, Pimp.Cab.Muhammadiyah IV memutuskan membangun masjid Muhammadiyah di Komp.Mawar. Maka dibentuklah panitia yg terdiri dari Ketua H.Anang Bakeri, Wakil Ketua H.Saberi Razak, Sekretaris Misbach, Bendahara H.Suberi As.


Pada 7 Juni 1969, SING KANG (M.ILHAM) menawarkan sebidang tanah beserta bangunannya di jalan Cempaka Besar seharga Rp.4.500.000. Panitia berminat membeli tanah itu untuk lokasi pemb.masjid Muhammadiyah karena letaknya sangat strategis di tepi jalan raya. Pendekatan dengan WNI keturunan tionghoa itupun dilakukan.
Pada 15 Juni 1969 pukul 17.00 wita, H.Saberi Razak bertemu dengan Singkang utk negosiasi harga, tapi belum dicapai kata sepakat. Pada saat itu pula terungkap bahwa tanah tsb besok pagi akan dibeli pihak lain. Bahkan kabarnya ditanah tsb akan dibangun tempat peribadatan agama lain.

Sontak semua aggota panitia pembangunan masjid terkejut karena SingKang mengambil keputusan itu secara sepihak. Panitia dihadapkan pd posisi yg sulit dan kritis karena belum ada dana tersedia, utk ukuran saat itu 4,5 juta kalau dinilai dengan emas sama dengan 2,5 kg emas.
Panitia kembali menemui Singkang sekaligus bertemu dengan pihak yang akan membeli tanah itu Lim Bun Ci untuk negosiasi.

Pada 16 Juni 1969 pukul 08.00 wita bertempat di Toko Rahmad Pasar Baru Banjarmasin, H.Saberi Razak Cs dan SingKang disaksikan H.Darlan Tukacil bersepakat melakukan jual beli tanah di jalan Cempaka Besar itu dengan harga Rp.4.250.000. SingKang hanya memberi batas waktu 3 hari utk pelunasannya.
Hari itu pula pukul 10.00 wita H.Saberi Razak dan H.Sukeri datang kerumah SingKang untuk bayar persekot Rp.100.000. Disepakati jika dalam waktu 3 hari panitia tidak membayar lunas harga tanah itu, maka perjanjian jual beli batal dan persekot hilang.
Pada 18 Juni 1969 pukul 14.00 wita segenap warga Muhammadiyah menggelar pertemuan di aula SD Muhammadiyah Jalan Cempaka II Banjarmasin, rapat dipimpin 
Ketua Pimp.Cab.IV H.Husin Rasyid dan wakilnya H.M.Syaifullah.
Saat itulah pimpinan rapat menggugah para hadirin dengan pertanyaan "apakah kita ingin mendengar suara adzan berkumandang ataukah lonceng gereja dilingkungan mawar ini". "Saudara-saudara saya yakin Allah akan menolong kita jika kita menolong agama Allah. Beliau dg suara terbata2 mengeluarkan sebuah gelang emas 24 gram dari sakunya. " Ini adalah amanat dari seorang ibu dirumah yang tak bisa hadir karena anaknya sakit, gelang ini ikhlas disumbangkan untuk pembangunan Masjid Muhammadiyah.
Para ibu yang hadir saat itu tersentuh dan serentak mendatangi meja pimpinan rapat, sambil melepaskan semua perhiasan emas yang dipakainya. Serta merta tanpa pikir panjang bapak dan ibu langsung mencatatkan diri sebagai penyumbang, tak sedikit yg menyisihkan modal dagangannya yg sangat mereka butuhkan dlm memutar roda kehidupan.

Yang mengharukan ada seorang ibu menyumbang cincin kawin kesayangannya, panitia tidak sampai hati menerima pengorbanan ibu itu lalu bertanya, " Bu, ibu kan hanya punya satu ini, ibu itu menjawab ya, apakah ibu tdk menyesal, dg tegas ibu itu menjawab saya ikhlas, bahkan saya bangga, jangan sumbangan saya yg kecil ini ditampik, jangan panitia menolak saya karena hanya mampu menyumbang cincin kecil beberapa gram, jangan saya ditinggalkan dari kapal kelompok pejuang utk menegakkan rumah Allah ini".
Setelah hari itu sumbangan terus mengalir ke panitia, ada seorang bapak tua yang menyerahkan sepeda butut yang digunakannya untuk bekerja sehari2, tapi panitia tdk sampai hati menerima dan menolak sumbangan itu dengan halus. Kepala daerah kepolisian/kadapol sekarang kapolda kalsel Brigjen Abdul Hamid Swasono spontan menyumbangkan jam tangan rolex baru miliknya.

Akhirnya tepat 21 Juni 1969 terkumpul dana utk membeli tanah SingKang itu sesuai batas waktu yg telah disepakati.
Setelah tanah dibeli dilakukanlah perembukan mengenai nama Masjid yg akan dibangun. Ada 3 nama yg diusulkan yaitu Al Fatah (kemenangan), Al Munawarah (yang diberi cahaya), dan Al Jihad (perjuangan). Tepatnya nama Al Jihad yang disepakati, sesuai dengan sejarah, semangat dan watak Masjid ini.
Tanggal 11 Juli 1969 tepat 25 Rabiulakhir 1389 H Masjid Al Jihad diresmikan dan saat itupula dilaksanakan Sholat Jumat perdana di Masjid Al Jihad dengan Khotib HM.Arsyad dan Adzan dikumandangkan H.Muin.


Era Milineal 2018
Kini di era milienal ini tahun 2018, Masjid Al Jihad Banjarmasin menjadi masjid yang termegah dan popular, dengan berbagai aktivitas menyelimuti. Tentu tak kalah dengan masjid-masjid di Timur Tengah, termasuk di kawasan Jazirah Arab seperti Masjidil Haram Makkah dan Masjid Nabawi Madinah.

52 kali pengajian rutin dalam sebulan, mulai subuh, siang, petang, dan malam selalu menyirami rohani para jamaah, sehingga dari hari ke hari, jumlah jamaah membludak. Akibatnya masjid yang relative besar berkapasitas 2.500 jamaah terasa sempit.
Hal itu ditandai dengan sholat subuh dan zuhur, layaknya  seperti shalat Jumat, makin meluber jamaahnya.
Tak terlupakan, kegiatan rutin pengelolaan ibadah kuran dengan rata-rata 85 ekor sapi setiap tahun, bahkan diperkirakan tahun depan mencapai 100 ekor sapi.

Pengelola banyak yang ditolak jika kelebihan hewan kurban, sebab penyembelihan diharuskan selesai satu hari saja. Ini bentuk kepercayaan penyelenggaraan ibadah kurban, sehingga selalu bertambah.
Tak kalah menonjolnya adalah penyenggaraan sholat jenazah, karena hampir tiap hari digelar, bahkan dalam sehari mencapai 5 jenazah yang diterima untuk dishalatkan, yang kebanyakan pula orang berasal dari jauh.

Karena jamaah tidak kurang 1.000 jamaah mensholatkan, bahkan bisa melayani penyenggaraan jenazah 24 jam. Mulai memandikan, mengapani, dan menguburkan, bahkan jika ada yang mau dikirim ke Jawa, pengurus masjid yang mengurus artinya keluarga tinggal diam saja.

Bahkan sifat sosialnya sangat banyak, jika tak mampu digratiskan memandikan, menguburkan, hingga penyelenggaraan jenazah diperoleh dengan lapang. Apalagi telah disiapkan ruang pemandian 2 buah untuk laki dan perempuan. Tentu semua itu, pihaknya tidak membedakan golongan dan organisasi, meskipun bukan Muhammadiyah pun diterima. Namun cara mengurus jenazah sesuai ketentuan Nabi SAW.

Ditambah lagi, armada 2 unit ambulance, meski dinilai kurang, namun masih bisa digunakan secara bergantian saat membawa jenazah menuju Maqbarah Al jihad yang berada di kawasan Pematang Gambut, dan Liang Anggang Bati-Bati.
Lebih menarik lagi, kegiatan Ramadhan penuh khusus qiyamul lail, dan buka puasa bersama tidak kurang 1.500 jamaah menyelimuti masjid Al Jihad Banjarmasin.

Tentu menu khas bubur ayam buka puasa tersaji dengan nyaman, dengan pembiayaan dari jamaah.  Termasuk puasa 6 hari di bulan Syawwal. Begitu puka aktivitas shalat Id  dipusatkan pada Taman Kamboja samping masjid Al jihad mencapai 5 ribu jamaah, menjadi bagian siar dan takmir masjid.

Aspek ekonomi, dilingkungannya terdapat Al Jihad Mart melayani kebutuhan siswa SD/SMP/SMK Muhammadiyah dan jamaah yang ingin berbelanja, ditunjang pula klinik kesehatan dengan tenaga 2 dokter, 2 perawat, 2 farmasi,  berlangsung setiap Pagi Ahad dan Ahad Malam.

Sifat sosial kemasyarakatan lainnya pun digeber seperti pembagian zakat fitrah kepada 3.000 penerima setiap malam Idul Fitri. Begitu pula sunatan massal dan donor darah pun digelar, kebiasaan menjelang puasa ramadhan sebanyak 350 anak dengan diberi paket sarung dan uang saku.

Donor darah juga rutin, kemudian remaja masjid melaksanakan pesantren ramadhan , pengajian remaja, dan bakti sosial. Kami memberikan kepercayaan kepada remaja masjid seperti penyenggaraan kurban, dengan koordinator mereka yang remaja. Dengan menghadirkan panitia pelaksana  mencapai 600 orang.

Sosial kemasyarakatan tidak hanya rutinitas ibadah di masjid, namun juga memberantas tempat tidak pantas seperti salon esek-esek, dengan melayangkan surat ke Walikota Banjarmasin, bahkan kami juga melayangkan surat menolak diskotek dekat masjid.

Terpenting pula pendapatan hasil infaq di Masjid Al Jihad perminggu dibuka dengan rata-rata Rp55 juta, bahkan sampai Rp60 juta. Karena kepercayaan jamaah kepada pengelola masjid Al jihad, maka pendapatan masjid selalu bertambah. Ada pula donatur tetap Rp30 juta rutin perbulan, dan dana dipergunakanuntuk kemakmuran jamaah.

Dari semua itu, apa kiatnya? Tidak lain yakni pengelola secara ikhlas dan berkreasi dalam memakmurkan masjid, sebab dengan ikhlas tanpa imbalan, namun lebih cenderung kepada pahala yang nanti dibalas oleh Allah SWT.



Masjid Al Jihadi dipastikan memiliki kenyamanan, keamanan, dan menyenangkan.
Seperti WC bersih, tempat sholat pakai AC, penerangan dan fasilitas lengkap, dan aman dari kecurian dengan security-nya yang dilengkapi.
Dulu ada yang kehilangan sepeda motor, dan laptop, namun panitia siap mengganti akan tetapi, si pemilik menolak untuk diganti.

Jamaah yang sakit pun kita datangi, selalu ucapkan salam saat bertemu, dengan keramahan yang harus digaungkan secara terus menerus. Memakmurkan masjid pun dengan mengoptimalkan radio Suara Al Jihad, dan kini digemari masyarakat luas, mengingat ada acara pengajian dan info penting yang selalu disiarkan.
Saat ini, radio Suara Al Jihad yang dibangun tahun 2010 melebarkan sayap ke Muhammadiyah Alabio HSU dengan semua fasilitas radio oleh Masjid Al Jihad Banjarmasin.

Radio Suara Al jihad juga membantu masjid lain untuk memberikan informasi seperti pembangunan masjid dan lainnya. Dam hal penting yang perlu diketahui, Masjid Al Jihad kini telah menggunakan escalator untuk naik ke atas sehingga memudahkan jamaah perempuan dan tua.

Para petugas seperti kaum, petugas kebersihan, security, imam,  petugas umum diberangkatkan umrah oleh jamaah. Bahkan ada pula jamaah yang rajin turut pula diberangkatkan umroh. Sebab dengan pengelolaan masjid Al Jihad yang secara transparan dan dimanfaatkan secara maksimal untuk jamaah, memberikan dampak positif bagi semua.

Ke depan, telah direncanakan pembangunan area parkir sebanyak 6 lantai, dan sudah dibangun pondasi senilai Rp4 miliar, dan target sebelum puasa 2019 terealisasi 3 lantai. Sumber dana Rp1 miliar dari  PCM Banjarmasin 4 dan sisanya oleh jamaah serta ortu siswa. Pada 6 lantai tersebut selain area parkir, juga ada ruang kegiatan sekolah, dan ruang serbaguna di lantai 6, tentu menggunakan operasional lift.
Masjid Al Jihad Banjarmasin memiliki luas 3.000 meter persegi, lahan 5.000 meter persegi, dengan kapasitas 2.500 jamaah. Bahkan kini saking percayanya orang dengan pengelolaan masjid Al Jihad, maka ada seseorang mewakafkan tanah di Landasan Ulin ke dengan harga Rp1,5 miliar untuk dipergunakan. Yang menarik ada para imam masjid sebanyak 4 orang, bahkan secara bergiliran . Setiap waktu sholat menggunakan ayat selalu disambung sehingga khatam Al Qur'an. Kini Ketua Pengelola Masjid Al Jihad dipimpin Ustadz Riza Rahman, di bawah PCM Banjarmasin 4 dengan ketua H Taufik Hidayat. (berbagai sumber/afdi)


Komentar

Tampilkan

Terkini