Gapensi Kalsel Inginkan Kontraktor “Plat Merah” Gawe Proyek Bandara
Banjarmasin,
BARITO
Ketua Umum BPD Gabungan Pelaksana
Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Kalimantan Selatan H Edy Suryadi
meminta proyek bandara Syamsuddin Noor dikerjakan alias “digawe” kontraktor
“plat merah”. Pasalnya, kontraktor milik BUMN memiliki modal besar dalam
pembiayaan pengerjaan proyek bandara Syamsuddin Noor. “, Ya, kalau kontraktor
lokal (swasta) minim pembiayaan, akibatnya pekerjaan terbengkalai, sehingga
target pemerintah memiliki bandara yang berkelas sulit terwujud,” ujar Edy
Suryadi ketika dikonfirmasi, Senin (28/5/2018).
Menurutnya, tenaga kerja juga lebih
mudah didapat, dan target perlaksanaan proyek cepat terwujud, bahkan mereka tak
memikirkan pembiayaan proyek, apakah dibayar atau tidak lebih awal.
Apalagi setiap pekerjaan telah
dibuck up perbankan, sehingga tak perlu termin. “Mereka tak perlu menunggu
pencairan dana, namun tetap bekerja sesuai target proyek dengan hasil
memuaskan,” beber Edy yang juga Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) Kalimantan
Selatan ini, Senin (28/5/2018).
Pembangunan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasdin dilaksanakan PT Nusa
Konstruksi Engenering Tbk sejak april 2017 dengan lama pengerjaan 540 hari
kalender berjalan, namun masih menemukan kendala. Kondisi ini dikhawatirkan
akan mengganggu penyelesaian proyek yang ditarget rampung Juni 2019 mendatang.
Pada 1 Maret 2018 telah ditandatangani standar
pelayanan Bandara Syamsudin Noor dengan para stakeholder yang memuat tentang
semua jenis produk layanan, proses, termasuk SOP pelayanan terhadap
berkebutuhan khusus.
"Banjarmasin kota yang luar biasa.
Masyarakatnya sangat dinamis. Untuk itu kita ingin masyarakat Banjarmasin maju.
Dan menjadi kewajiban negara melalui PT Angkasa Pura I untuk menghadirkan
bandara yang bisa melayani masyarakat dengan baik. Biasanya kalau bandara
diperbesar, penumpang akan meningkat dan daerah di sini maju, " ujarnya.
Saat ini pergerakan penumpang di bandara Syamsuddin
Noor sudah mencapai 3,5 juta penumpang pertahunnya. Sementara kapasitas
terminal seluas 9.043 m2 tersebut hanya mampu menampung hingga 1 juta penumpang
pertahunnya. Sementara panjang runway baru sepanjang 2500 x 45 m2, dan appron
yang mampu menampung hanya 12 pesawat saja.
Foto :Istimewa
Pembangunan tahap I pada Maret 2017. Pembangunan
yang dilakukan diantaranya yaitu, perluasan terminal menjadi 50.359 m2 yang
dapat menampung hingga 6 juta penumpang pertahunnya. Perpanjangan runway hingga
3000x45 m2, dan perluasan appron berkapasitas hingga 18 pesawat.
Tidak hanya itu, perluasaan terminal kargo juga
dilakukan menjadi seluas 5.000 m2 dari kondisi saat ini yang hanya seluas 802
m2. Mengantisipasi pergerakan barang yang terus meningkat dengan rata-rata
peningkatan 10 persen per tahunnya.
Pembangunan terus dilakukan hingga tahap 4 yaitu
pada tahun 2047. Pada tahun tersebut, ditargetkan sudah memiliki terminal
penumpang seluas 103.953 m2 yang dapat menampung hingga 12 juta penumpang
pertahunnya. (ap/afdi)


