Notification

×

Iklan


 

Iklan

 


Akses Pendidikan Yang Berkeadilan Hingga Ke Pedesaan di Kalsel

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:06 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-27T16:14:14Z

Kualitas Pendidikan Hingga Ke Pedesaan

PAGIKALIMANTAN.MY.ID, BANJARBARU - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan (Disdikbud Kalsel) terus memperluas jaringan sekolah penyelenggara pendidikan inklusif guna memastikan akses pendidikan yang berkeadilan dan bermutu bagi anak-anak berkebutuhan khusus di seluruh wilayah tersebut.

BACA JUGA: 2019, Hadir The Galeria Mall Banjarmasin di Kalsel 

"Alhamdulillah, pendidikan inklusif di Kalimantan Selatan menunjukkan perkembangan yang positif. Saat ini terdapat 334 SMA dan SMK yang telah ditetapkan sebagai sekolah penyelenggara pendidikan inklusif, terdiri atas 207 SMA dan 127 SMK," ujar Kepala Dinas Pendidikan Kalsel H. Abdul Rahim di Banjarmasin. 

Langkah taktis ini sejalan dengan visi besar Gubernur Kalimantan Selatan yang mengusung tagline "Bekerja Bersama, Merangkul Semua" melalui kebijakan penghapusan diskriminasi di lingkungan sekolah, pemenuhan hak belajar, serta penguatan fasilitas yang ramah bagi seluruh peserta didik. 

Menurut Abdul Rahim, data terbaru mencatat performa program ini telah berhasil melayani sebanyak 304 peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) yang tersebar di berbagai jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kalimantan Selatan.

BACA JUGA: 2019, Hadir The Galeria Mall Banjarmasin di Kalsel 

"Fokus kami saat ini berada pada tiga aspek utama, yaitu perluasan akses, peningkatan mutu layanan, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia pendidikan agar kebijakan ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh peserta didik," ucapnya. 

Disebutkan, sektor peningkatan kompetensi guru juga menjadi prioritas yang tidak terpisahkan, hingga saat ini sekitar 500 guru di Kalimantan Selatan telah mendapatkan pembekalan intensif melalui pelatihan khusus dan bimbingan teknis. 

Abdul Rahim menilai pemenuhan sarana dan prasarana yang aksesibel dilakukan secara bertahap, tidak hanya mencakup akses fisik seperti ramp dan toilet ramah disabilitas, tetapi juga akses terhadap media pembelajaran serta teknologi pendukung.

BACA JUGA: 2019, Hadir The Galeria Mall Banjarmasin di Kalsel 

"Tantangan yang masih kami hadapi antara lain pemerataan kompetensi guru, keterbatasan tenaga pendidik khusus, kebutuhan sarana yang belum merata, serta masih adanya stigma terhadap peserta didik berkebutuhan khusus," tuturnya. 

Untuk mengatasinya, Disdik Kalsel mengagendakan inovasi penguatan layanan yang difokuskan untuk menjangkau daerah terpencil dan pedesaan melalui penguatan Unit Layanan Disabilitas (ULD) dan pemanfaatan teknologi untuk pendampingan jarak jauh. 

Abdul Rahim menambahkan, masyarakat harus mengubah paradigma lama dan menegaskan tidak ada lagi sekat pemisah kualitas antar-sekolah. 

BACA JUGA: 2019, Hadir The Galeria Mall Banjarmasin di Kalsel 

"Kami ingin menekankan tidak ada lagi dikotomi antara sekolah yang baik atau buruk, karena pada hakikatnya semua sekolah itu sama, menerapkan kurikulum yang sama, dan mengajarkan mata pelajaran yang setara demi mewujudkan pendidikan yang merata," imbuhnya. (*)

 

×
Berita Terbaru Update