![]() |
| Pengisian Bahan Bakar Mobil |
PAGIKALIMANTAN.MY.ID, JAKARTA - Awet, bandel dan tangguh, jadi kata kunci untuk mesin diesel yang lama dianut oleh para pengguna mobil berbahan bakar solar itu. Namun mahalnya bahan bakar solar non subsidi saat ini, mengubah peta penjualan dan adopsi kendaraan diesel di Indonesia.
BACA JUGA: Ekuador 2-1 Jerman | FIFA World Cup 2026
Tantangan ini menuntut penggunanya untuk menghitung ulang setiap tetes
bahan bakar yang masuk ke dalam ruang bakar. Di satu sisi, pengguna
membutuhkan performa dan ketangguhan yang tidak berkurang. Namun di sisi
lain, efisiensi dan kehematan kini telah bergeser dari sekadar pilihan,
menjadi sebuah keharusan untuk bertahan.
Di sinilah dilema dan tantangan terbesar bagi masa depan diesel muncul.
Bagaimana teknologi diesel masa kini dan nanti mampu menjawab tantangan
harga bahan bakar yang semakin mahal, tanpa harus mengorbankan DNA
ketangguhannya?
Forum Sidkom (Sidak Komunitas) dari OtoHub.co pun menggelar diskusi
panel untuk mengelaborasi dan menjawab semua itu. Di diskusi panel ini
menghadirkan praktisi yang membawa riset ilmiah, pabrikan yang memegang
teknologi masa kini dan masa depan.
Kemudian ada produsen pelumas yang menjaga performa tetap optimal, teknisi yang berpengalaman, dan spesialis mobil bekas yang memahami denyut nadi pasar riil. Di forum diskusi panel ini dihadirkan juga komunitas otomotif.
BACA JUGA: Ekuador 2-1 Jerman | FIFA World Cup 2026
Di antaranya dari perwakilan Innova Community, SUV Brotherhood, D-Cab
ID, ID42NER Bogor, dan Raize Indonesia Club. Komunitas bagian dari
pengguna langsung yang merasakan suka dan duka memiliki mobil bermesin
diesel.
Beberapa poin diskusi pun mengatakan bahwa mesin diesel akan
menghasilkan tenaga lebih besar, konsumsi bahan bakar lebih hemat, dan
emisi rendah. Tentunya dengan syarat penggunaan bahan bakar yang
direkomendasi secara teknis secara tepat.
Kemudian juga mobil bermesin diesel diciptakan sebagai mesin yang
tangguh. Ratusan ribu kilometer bermula dari perawatan yang benar hari
ini. Performa maksimal, efisien, dan umur komponen lebih bukanlah
kebetulan. Melainkan hasil dari kedisiplinan dalam merawat mobil diesel.
Produksi diesel dari pabrikan kendaraan bukan reaksi terhadap pasar.
Tapi, ini eksekusi dari strategi yang direncanakan. Mesin diesel tetap
digemari karena ada pengguna yang memang menyukai karena mesin tangguh
dan bahan bakar efisien.
BACA JUGA: Ekuador 2-1 Jerman | FIFA World Cup 2026
Ke depannya teknologi diesel harus semakin bersih dan mesin lama mulai
tergantikan oleh modern diesel. Dosen Fakultas Teknik Mesin dan
Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr.-Ing. Ir. Tri
Yuswidjajanto Zaenuri mengatakan bahwa awalnya mesin diesel diciptakan
sebagai mesin yang tangguh.
"Prinsipnya mesin diesel memiliki daya yang tinggi dengan konsumsi bahan
bakar yang hemat dan rendah emisi. Syarat ini bisa tercapai dengan
pemakaian bahan bahar dengan Cetane Number (CN) atau angka setana yang
direkomendasi sesuai kebutuhan mesin. Angka setana semakin tinggi akan
mempercepat proses pembakaran," ujar Prof Yus, sapaan akrabnya.
Ia melanjutkan bahwa di Indonesia bahan bakar untuk mesin yang memiliki
CN tinggi ada CN53, contohnya Pertamina Dex. CN53 diperuntukan mesin
diesel generasi terbaru (common rail direct injection) yang dampaknya
untuk usia filter bahan bakar dan injektor lebih panjang.
"Penggunaan bahan bakar CN53 akan membuat penggunaan pelumas juga lebih
panjang. Sebaliknya kalau mobil diesel generasi baru menggunakan bahan
bakar CN51, contohnya Bio Solar, akan memperpendek usia filter dan
injektor. Jarak penggantian pelumas akan lebih pendek."
BACA JUGA: Ekuador 2-1 Jerman | FIFA World Cup 2026
Senior Analys PCO & Specialties PT Pertamina Lubricants, Mulianto menyambung bahwa bicara mesin diesel, bicara mesin tangguh. Tapi, ratusan ribu kilometer mesin diesel yang tangguh bermula dari perawatan yang benar hari ini.
"Performa maksimal, efisien, dan umur komponen lebih bukanlah kebetulan.
Melainkan hasil dari kedisiplinan dalam merawat kendaraan. Salah satu
yang sangat penting untuk pemilik mesin diesel mengenal fungsi pelumas
di mesin diesel," ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa di pasaran tersedia oli mineral dan sintentis
untuk mesin diesel. Oli mineral maksimal penggunaannya sampai 5.000 km.
Oli sintetis bisa dipakai 7.500 km-10.000 km. Kelebihan oli sintetis
bisa meredam panas ekstrem dari mesin, dibanding pendinginan oli
mineral.
Disambung oleh CEO Inchcape GWM Indonesia, Bagus Susanto bahwa di
Indonesia sejak pertengahan 2025 sampai 2026 mobil bermesin diesel
menunjukan permintaan yang positif. Bahkan, mobil dengan teknologi mesin
diesel diminati di Indonesia. Dari data komposisi penjualan Januari-Mei
2026, permintaan mobil diesel mendominasi, 67% mesin diesel, 21% BEV
dan hybrid 12%.
BACA JUGA: Ekuador 2-1 Jerman | FIFA World Cup 2026
"Fakta yang lain pertumbuhan permintaan Year on Year (YOY) varian diesel
tumbuh 1,2% dibanding mobil bensin -7,1%. Sepertinya stabilnya pasar
mobil mesin diesel karena banyaknya penggemar mesin diesel. Mesin diesel
juga dikenal dengan ketangguhan, kuat, dan bahan bakar efisien," papar
Bagus Susanto.
Namun semua pemateri kunci ini sepakat bahwa mobil bermesin diesel masih
punya masa depan di Indonesia. Bahkan dikatakan oleh beberapa narsum
bahwa memilih BBM diesel juga bukan hal yang salah. Ini hanya salah satu
dari pilihan yang tepat selama penggunaan jenis BBM-nya jelas. (*)







