![]() |
| Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di Ballroom Grand Maya Hotel, Banjarbaru |
PAGIKALIMANTAN.MY.ID, BANJARBARU - Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Kalselteng) resmi menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di Ballroom Grand Maya Hotel, Banjarbaru pada Kamis.
Mengusung tema “Kolaborasi, Sinergi dan Transformasi Digital Untuk Internet Indonesia yang Maju dan Merata”, agenda ini menjadi momentum penting untuk memperkuat langkah strategis penyediaan akses internet yang inklusif di banua.
Langkah ke depan APJII Kalselteng akan difokuskan pada penguatan
internal organisasi, peningkatan layanan keanggotaan, serta komitmen
penuh dalam membantu pemerintah daerah mengikis area tanpa sinyal (blind
spot) yang saat ini masih tersisa sekitar 6 persen di Kalimantan
Selatan.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Kalimantan Selatan, Muhamad Muslim, mengapresiasi pelaksanaan Rakerwil ini.
Menurutnya, program-program yang dihasilkan oleh APJII harus berimbas nyata pada kepentingan masyarakat luas, khususnya dalam perluasan infrastruktur dan ekosistem digital.
”Kami dari pemerintah memberikan dukungan penuh terhadap upaya peningkatan akses jaringan yang lebih luas di Kalimantan Selatan. Terkait sisa 6% wilayah blind spot, kami berharap teman-teman APJII dapat memberikan alternatif solusi konkrit karena secara teknis mereka yang lebih memahami,” ujar Muslim.
Ia juga menekankan pentingnya diskusi mendalam jika dalam eksekusi teknis di lapangan bentrok dengan regulasi tertentu.
“Kita perlu diskusikan celah regulasi apa yang bisa dibuat agar jaringan internet ini bisa sampai ke wilayah paling pinggir sekalipun. Goal-nya adalah seluruh masyarakat Kalimantan Selatan dapat menikmati jaringan internet,” tambahnya.
Menanggapi tantangan tersebut, Ketua Badan Pengurus Wilayah (BPW) APJII Kalselteng, M. Satria Budi Utama, menegaskan bahwa pihaknya siap bersinergi dan selalu berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk meng-cover wilayah-wilayah terpencil.
Satria menjelaskan bahwa perluasan jaringan ke area blind spot sering
kali menghadapi kendala teknis, namun APJII berkomitmen untuk tetap
berjalan di koridor hukum yang berlaku.
”Pastinya kita akan selalu berkoordinasi dan bersinergi dengan pemerintah. Secara teknis memang ada kendala, namun kami berkomitmen tidak ingin melanggar regulasi,” ujarnya.
“Kami ingin mengakomodir kawan-kawan anggota agar program setahun ke depan terlaksana dengan baik, dengan tetap mengedepankan pelayanan maksimal bagi masyarakat dan konsultasi yang intens dengan keanggotaan,” jelas Satria.
Apresiasi terhadap geliat APJII di kancah regional juga datang dari pengurus pusat. Ketua Bidang Pengembangan Wilayah 2 APJII, I Gede Yudhatama, mengisahkan bahwa APJII Kalselteng menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan sejak lepas dari wilayah Kalimantan Timur tahun lalu.
”Tahun lalu baru dibentuk karena sebelumnya bergabung dengan Kaltim. Dari perkembangan anggota, perkembangannya sudah lumayan banyak. Dari yang semula hanya sekitar 14 anggota, sekarang sudah mendekati 30 anggota. Ini perkembangan yang cukup signifikan,” ungkap Yudhatama.
Dari pusat, Yudhatama berpesan agar momentum rakerwil pertama ini dijadikan wadah untuk membimbing wilayah agar meraih hasil terbaik, sembari mengingatkan pentingnya menjaga soliditas internal.
”Pesan kami dari pusat, tetap guyub dan jaga kekompakan. Kalau anggota di wilayah tidak guyub, nanti malah saling menjatuhkan. Tetap kompak untuk maju bersama, baik untuk kemajuan wilayah Kalselteng maupun nasional pada umumnya,” imbuhnya. (*)







